Karhutla Kembali Datang, Mengapa Memadamkannya Begitu Menantang?

Proses pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan.

Api kecil di tengah lahan kering bak bom waktu yang siap meledak. Inilah realitas yang kembali menghantui Pulau Kalimantan saat musim kemarau tiba. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang dihimpun CNN Indonesia hingga awal September 2026, tercatat ribuan titik panas (hotspot) di Kalimantan. Meski jumlahnya dilaporkan mulai menurun di Kalimantan Selatan dan Tengah, status siaga masih terus dipertahankan. Ketika kobaran sudah menjalar, tantangan utamanya telah bergeser dari sekadar menemukan titik nyala menjadi upaya menaklukkan raksasa yang terus bergerak liar.

Sebagian orang kerap menyamakan pemadaman Karhutla dengan memadamkan api unggun biasa. Padahal, penanganannya menuntut upaya ekstra melampaui sekadar menyiram permukaan. Karhutla, terutama di lahan gambut, kerap menyisakan bara yang bersembunyi jauh di bawah tanah. Api yang di permukaan tampak reda bisa kembali berkobar beberapa hari kemudian akibat hembusan angin. Untuk menyiasatinya, petugas wajib melakukan teknik mop-up, yakni menyuntikkan air ke dalam tanah guna memastikan seluruh bara benar-benar mati. Proses ini memakan waktu, tenaga, dan ketelitian tingkat tinggi.

Selain karakteristik api yang persisten, para pemadam dihadapkan pada kombinasi ekstrem di lapangan. Titik panas mayoritas berada di area terpencil dengan akses jalan yang sangat terbatas bagi armada pemadam, ditambah minimnya ketersediaan sumber air di lokasi. Di saat yang sama, cuaca bisa berubah dalam hitungan menit. Angin kencang mendadak dapat memutar arah api, sementara asap tebal membatasi jarak pandang petugas dan mencekik ruang udara kota-kota di Kalimantan hingga tersisa 1-2 kilometer.

Selain berpacu melawan waktu, petugas harus bertaruh nyawa di tengah kepungan asap dan minimnya logistik. Operasi pemadaman dari udara yang sering digadang-gadang sebagai solusi pamungkas nyatanya memiliki sejumlah keterbatasan. Upaya seperti Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menurunkan hujan buatan sangat bergantung pada keberadaan awan potensial. Keberhasilan teknologi ini memegang syarat mutlak pada kondisi cuaca, sehingga langit cerah justru menjadi kendala utama penyemaian awan.

Pada akhirnya, pertarungan darat yang melelahkan tetap menjadi ujung tombak utama dalam melumpuhkan Karhutla. Besarnya daya rusak Karhutla membuktikan bahwa penanganan menuntut solusi berkelanjutan yang melampaui sekadar penyediaan alat pemadam dan personel di lapangan. Semakin luas lahan yang terbakar, semakin luar biasa pula tenaga dan biaya yang harus dikeluarkan negara.

Menghadapi siklus tahunan ini, tindakan pencegahan mutlak menjadi langkah paling rasional. Memperkuat pengawasan lahan rawan dan menindak tegas oknum pembuka lahan dengan metode bakar adalah sebuah keharusan. Sebab, sebelum kita mempertanyakan sulitnya memadamkan Karhutla, langkah yang jauh lebih mendasar adalah memastikan api tersebut dapat dicegah menyala sejak awal.

Penulis: Akhmad Rizhan, Muhammad Hafiz Rido.
Karhutla Kembali Datang, Mengapa Memadamkannya Begitu Menantang? Karhutla Kembali Datang, Mengapa Memadamkannya Begitu Menantang? Reviewed by LPM Lensa Poliban on Selasa, September 22, 2026 Rating: 5

Tidak ada komentar