Poliban Ungkap Alasan Dibalik Ditiadakannya BINTALFISDIS 2026
Menjelang tahun ajaran baru 2026/2027, Politeknik Negeri Banjarmasin (Poliban) resmi meniadakan kegiatan Bina Mental, Fisik, dan Disiplin (BINTALFISDIS) bagi mahasiswa baru. Keputusan ini disepakati oleh jajaran pimpinan dan senat kampus lantaran program tahunan tersebut dinilai tak lagi efektif membentuk kedisiplinan, terutama akibat penyusutan durasi pelatihan dari tahun ke tahun.
Anggota tim Hubungan Masyarakat (Humas) Poliban, Rizki Apriana, M.I.Kom., menjelaskan bahwa biaya sekitar Rp550.000 saat ini dirasa tidak sepadan dengan singkatnya waktu pembinaan. "Jika kampus memaksakan untuk mempertahankan durasi empat hari tiga malam seperti tahun 2019 silam, otomatis akan terjadi pembengkakan biaya yang sangat membebani calon mahasiswa baru," ungkapnya. Oleh karena itu, pimpinan sepakat mengevaluasi ulang program ini guna mencari alternatif baru yang lebih efisien.
Sebagai institusi vokasi dengan sistem 60 persen praktik dan 40 persen teori, kedisiplinan mahasiswa saat mematuhi Standar Operasional Prosedur (SOP) tetap menjadi prioritas utama Poliban. "Kami sudah melihat bahwa kegiatan BINTALFISDIS itu tidak lagi efisien dan tidak sejalan dengan tujuannya," tegas Kiki. Sebagai gantinya, pihak akademik berupaya menanamkan nilai kedisiplinan dan bela negara dengan mengintegrasikannya langsung ke dalam materi kurikulum.
Di sisi lain, kebijakan ini menimbulkan tanda tanya bagi mahasiswa lama yang sudah membayar lunas namun belum sempat mengikuti BINTALFISDIS. Salah satunya Despin Nur Zikri, mahasiswa D4 Sistem Informasi Kota Cerdas angkatan 2023. Ia mengaku khawatir lantaran belum ada tindak lanjut dari pihak kampus mengenai status mereka, mengingat sertifikat kegiatan tersebut merupakan syarat wajib untuk mendaftar yudisium.
Terkait efektivitas, Despin menilai durasi BINTALFISDIS yang semakin singkat tidak memberikan perubahan karakter yang signifikan. Menurutnya, kedisiplinan justru lebih efektif jika diterapkan secara konsisten melalui ketegasan dosen pengajar sehari-hari, seperti penerapan batas waktu pengumpulan tugas. "Pembentukan karakter itu diperlukan durasi yang lebih panjang dan konsisten supaya efektif, kalau dua atau tiga hari saja saya rasa masih kurang," ujarnya.
Terkait kejelasan administrasi yang masih menggantung, Despin sangat berharap pihak kampus segera memberikan solusi yang transparan. "Saya ingin tahu apakah akan ada kegiatan tambahan, tugas pengganti, atau pengembalian dana karena saya sudah membayar lunas," ungkapnya. Menanggapi tuntutan ini, pihak akademik merespons bahwa kebijakan khusus terkait syarat kelulusan sedang dirancang dan akan segera diumumkan guna menghindari keterlambatan yudisium. Di sisi lain, untuk menjawab kekhawatiran terkait mahasiswa baru, Kiki menegaskan bahwa ketiadaan program ini tidak akan mengganggu masa orientasi. "PKKMB akan tetap berjalan sesuai agenda. Hal ini tidak akan mengurangi kualitas maupun kelancaran pembekalan bagi mahasiswa baru pada tahun 2026 ini," tegasnya.

Tidak ada komentar