Resensi Film "Semua Akan Baik-Baik Saja"
| Judul | : Semua Akan Baik-Baik Saja |
| Sutradara | : Baim Wong |
| Penulis Naskah | : Baim Wong, Oka Aurora, dan Eurico K. Pratama |
| Pemeran Utama | : Reza Rahadian, Christine Hakim, Raihaanun, Ari Irham, Happy Salma |
| Tanggal Rilis | : 13 Mei 2026 |
| Durasi | : 1 jam 53 menit |
| Genre | : Drama Keluarga |
| Rate | : 8,5/10 |
| Penulis Resensi | : Laily Nadia Hapsari |
Kehilangan sering datang tanpa aba-aba, dan yang tersisa setelahnya bukan cuma duka, tapi juga tanggung jawab yang tidak pernah diminta. Itulah yang coba diangkat Baim Wong lewat film Semua Akan Baik-Baik Saja, film drama keluarga yang tayang mulai 13 Mei 2026. Berawal dari kematian mendadak Mentari (Happy Salma), film ini mengikuti tiga saudaranya yaitu Langit (Reza Rahadian), Bintang (Raihaanun), dan Banyu (Ari Irham) yang dipaksa kembali ke bawah satu atap untuk mengasuh ketiga anak yang ditinggalkan.
Sebelum kematian Mentari, ia berkunjung ke tempat tinggalnya Langit yang berada di rumah susun kumuh. Mereka bertukar cerita dengan keseharian mereka masing-masing. Tak disangka itulah pertemuan terakhir Langit dengan sang kakak. Mentari yang meninggal dunia dan meninggalkan tiga anak yang masih membutuhkan figur orang tua. Dengan keadaan seperti itu membuat Langit mengambil tanggung jawab sebagai paman serta pengganti figur orang tua untuk keponakannya. Langit pun otomatis menjadi sosok ayah bagi ketiga anak Tari, si sulung Malika (Aquene Aziz Djorghi) yang punya bakat dibidang musik, Syafa (Malika Shaquena) yang baru merasakan pubertas, dan Alim (Rahmatullah Nan Alim) yang berkebutuhan khusus.
![]() |
| Cuplikan adegan emosional dalam film Semua Akan Baik-Baik Saja. |
Emosional dalam film ini cukup membuat diri terguncang, antara senang, sedih, dan lucu bercampur didalamnya. Dari keputusan Ibu, Wida (Christine Hakim) untuk menjual rumah yang mereka tempati untuk kebutuhan kuliahnya Malika, hingga scene Alim yang menyukai teman sekelasnya dengan kelakuan yang membuat para penonton ikut tertawa.
Hal yang paling membuat salut dari film ini adalah keberanian Baim Wong melibatkan aktor disabilitas, Alim, untuk memerankan tokoh dengan nama yang sama, yaitu Alim, seorang anak dengan down syndrome. Ia hadir lebih dari sekadar peran pelengkap dan diberi kesempatan untuk mengembangkan karakternya. Pendekatan yang dilakukan terasa menarik dalam industri film Indonesia, dan usaha tersebut patut diapresiasi karena memberi kesempatan nyata, bukan sekadar menjadikannya simbol.
![]() |
| Interaksi Reza Rahadian dan pemeran anak dalam satu adegan. |
Sayangnya, keseluruhan film ini terasa agak kehilangan napas di bagian tengah. Terlalu banyak cerita yang ingin diselesaikan sekaligus, membuat setiap konflik terasa buru-buru dan tidak sempat digali dengan tuntas. Film ini seperti ingin merangkul luka setiap karakter sekaligus, tapi karena terlalu banyak yang ingin diselesaikan, akhirnya tidak ada satu pun luka yang benar-benar sembuh sampai tuntas.
Dari film ini juga menunjukkan bahwa kenyataan menjalani hidup dalam situasi yang berbeda memang sulit. Masing-masing mempunyai ego yang tinggi, serta cara menyampaikan kasih sayang yang berbeda, membuat sering terjadi kesalahpahaman. Hal ini karena tidak semua orang tahu cara mengungkapkanya dengan benar. Hingga tiba sebuah keputusan besar dari sang ibu yang membuat semuanya terdiam dan merenungi apa yang sudah terjadi. Namun, pada akhirnya, sejauh apapun ego dan luka membawa mereka pergi, keluarga tetap menjadi tempat untuk kembali sekaligus sebagai ruang untuk saling mendukung.
Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, film Semua Akan Baik-Baik Saja tetap sangat layak ditonton. Film ini cocok bagi siapa saja yang ingin melihat bahwa setiap keluarga punya luka dan masalahnya masing-masing. Pada akhirnya, keluarga selalu punya cara untuk saling memahami dan kembali bersama.



Tidak ada komentar