Pergeseran Perspektif Gen Z terhadap Makna Pernikahan
![]() |
| Sumber foto: Google Media sosial tanpa disadari telah mengubah pandangan Generasi Z (1997-2012) secara masif terhadap pernikahan. Lingkungan digital tersebut membuat mereka terbiasa mengakses berbagai informasi dengan mudah, termasuk persoalan hubungan, rumah tangga, hingga konflik pernikahan. Kondisi ini secara tidak langsung membentuk perspektif baru terhadap makna institusi pernikahan. Jika generasi sebelumnya menganggap pernikahan sebagai tahapan wajib, sebagian Gen Z kini tak lagi menjadikannya prioritas utama, melainkan sebuah pilihan yang dipertimbangkan sesuai kesiapan individu. Berbagai cerita dinamika rumah tangga seperti perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), hingga tekanan emosional dalam pernikahan beredar luas di platform digital. Narasi-narasi tersebut mengakibatkan kekhawatiran tersendiri bagi Gen Z. Bukannya memandang pernikahan sebagai suatu romantis dan didambakan, sebagian Gen Z justru memandangnya sebagai hubungan yang menuntut komitmen yang besar serta berbagai risiko dan tantangan. Fenomena tersebut tampak jelas dalam tren #MarriageIsScary yang sempat populer di platform TikTok beberapa waktu lalu. Dalam tren ini, pengguna didominasi oleh perempuan kalangan Gen Z berusia antara 23-29 tahun yang membagikan pandangan, pengalaman, dan kekhawatiran pribadinya mengenai pernikahan. Konten yang beredar umumnya menyoroti sisi krisis pernikahan, mulai dari hilangnya kebebasan pribadi, konflik dalam rumah tangga, budaya patriarki, tekanan emosional, hingga ketakutan akan gagalnya hubungan. Meski disampaikan dalam bentuk satire atau sindiran, tren ini tetap mencerminkan adanya sikap skeptis terhadap institusi pernikahan. Bukan sekedar wadah kekhawatiran, tren tersebut juga memunculkan diskusi di kalangan para pengguna media sosial. Beberapa kreator bahkan secara terbuka mengungkapkan kekhawatiran tentang pasangan yang memiliki pola pikir patriarki, risiko ketidaksetiaan, maupun kemungkinan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga. Respons dari pengguna lain yang mendukung narasi tersebut menunjukkan bahwa isu ini memang menjadi perhatian bersama, khususnya bagi generasi muda yang sedang memikirkan masa depan hubungan mereka. |
Pengalaman pribadi juga turut memengaruhi sikap Gen Z terhadap pernikahan. Dari berbagai konten yang diamati penulis pada tagar #MarriageIsScary, terlihat bahwa tak sedikit dari mereka yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang diwarnai dengan konflik rumah tangga bahkan korban perceraian orang tuanya. Pengalaman tersebut meninggalkan kesan psikologis yang mendalam sehingga membuat sebagian orang merasa ragu menjalani pernikahan. Bagi mereka, menunda atau tidak menikah sama sekali adalah cara terbaik untuk menghindari kemungkinan mengulang pengalaman pahit di masa lalu.
Di era digital saat ini, berbagai konten tentang hubungan sehat, edukasi pranikah, hingga isu kesehatan mental mudah ditemukan. Informasi tersebut mendorong Gen Z untuk lebih berhati-hati dalam menjalin hubungan agar terhindar dari hubungan yang namanya toxic relationship. Di sisi lain, kemapanan finansial dan kematangan mental juga kerap dinilai sebagai salah satu hal yang perlu dipersiapkan sebelum memasuki kehidupan rumah tangga. Oleh sebab itu, tidak sedikit Gen Z yang memilih fokus pada pendidikan, karier, dan pengembangan diri terlebih dahulu sebelum melangkah ke jenjang pernikahan.
Secara keseluruhan, perubahan cara pandang Gen Z terhadap pernikahan tidak dapat dilepaskan dari berbagai faktor, mulai dari pengaruh internet, pengalaman pribadi, kondisi ekonomi, meningkatnya kesadaran kesehatan mental dan kemandirian individu. Bagi sebagian besar Gen Z, pernikahan tak lagi dipandang sebagai tujuan hidup yang harus dicapai, melainkan keputusan besar yang perlu kesiapan matang. Pergeseran ini menunjukkan bahwa generasi muda saat ini lebih berhati-hati dalam menentukan langkah hidupnya, termasuk dalam memutuskan apakah dan kapan mereka akan menikah.
Penulis: Muhammad Hafiz Rido
Sumber Informasi:
unikom.ac.id, journal.uniga.ac.id, staim-probolinggo.ac.id
Reviewed by LPM Lensa Poliban
on
Senin, April 13, 2026
Rating:
.jpg)

Tidak ada komentar