Banjir Rob dan Kebijakan khusus Kampus untuk Mahasiswa
Fenomena banjir rob
kembali melanda Kota Banjarmasin dan menjadi persoalan rutin yang kerap terjadi
setiap akhir tahun. Curah hujan yang tinggi dengan durasi yang lama menyebabkan
sejumlah wilayah dataran rendah rentan tergenang air. Kondisi tersebut tidak
hanya mengganggu aktivitas masyarakat secara umum, tetapi juga berdampak
langsung terhadap kegiatan akademik, termasuk proses perkuliahan di Politeknik
Negeri Banjarmasin (Poliban). Situasi ini terasa semakin berat karena
bertepatan dengan pelaksanaan Ujian Akhir Semester (UAS), Kamis (25/12/2025).
Genangan air dengan
ketinggian yang cukup signifikan kerap ditemui di sejumlah titik akses menuju
kawasan kampus. Wilayah Universitas Lambung Mangkurat (ULM), yang menjadi jalur
utama menuju Poliban, menjadi salah satu area yang paling terdampak. Kondisi
tersebut menyulitkan mobilitas dosen, pegawai, maupun mahasiswa, terutama pada
jam-jam pagi saat aktivitas perkuliahan dimulai. Hambatan perjalanan ini
dirasakan hampir setiap hari selama banjir rob berlangsung.
Pihak akademik Poliban
menyadari bahwa kondisi tersebut berpotensi mengganggu kelancaran proses
perkuliahan serta keselamatan civitas akademika. Oleh karena itu, kampus
mengambil sejumlah langkah antisipatif guna meminimalisir dampak banjir rob
terhadap aktivitas akademik. Rachmi selaku Kasubbag Umum Poliban menjelaskan
bahwa salah satu upaya yang dilakukan adalah menyediakan layanan jasa antar
jemput bagi dosen dan mahasiswa.
“Pihak akademik
mengantisipasi agar kendaraan, khususnya sepeda motor, tetap aman dengan
menyediakan jasa antar jemput untuk para dosen dan mahasiswa. Layanan ini siap
sedia mulai pukul 07.30 WITA hingga 10.00 WITA,” ujar Rachmi.
Selain menyediakan
layanan transportasi, pihak kampus juga memberikan toleransi terhadap jam masuk
sebagai bentuk penyesuaian terhadap kondisi cuaca dan genangan air yang tidak
menentu. “Jam absensi pegawai dimundurkan dari pukul 07.30 WITA menjadi pukul
08.00 WITA. Sementara itu, bagi mahasiswa yang mengikuti perkuliahan teori,
pembelajaran dapat dilakukan secara daring. Namun, untuk kelas praktik tetap
dilaksanakan secara luring,” tambahnya.
Selama banjir rob
berlangsung, pihak akademik secara aktif memantau kondisi lingkungan kampus.
Informasi mengenai kedalaman genangan air, mulai dari area depan gerbang ULM
hingga wilayah Poliban, dibagikan setiap pagi melalui grup WhatsApp internal.
Informasi tersebut dijadikan bahan pertimbangan bagi dosen dalam menentukan
apakah perkuliahan memungkinkan untuk dilaksanakan secara tatap muka atau perlu
dialihkan ke pembelajaran daring. Meski demikian, pegawai di bidang pelayanan
tetap diwajibkan hadir ke kampus karena memiliki peran yang vital dalam
mendukung operasional akademik, dengan tetap difasilitasi layanan antar jemput.
Dari sudut pandang
mahasiswa, dampak banjir rob dirasakan cukup signifikan terhadap aktivitas
perkuliahan. Alya Chelsea Pramana, mahasiswi Jurusan Teknik Sipil dan Kebumian,
mengungkapkan bahwa perjalanan menuju kampus menjadi lebih berisiko selama
banjir rob terjadi.
“Berangkat pakai motor jadi terkendala,
takut motor mati, apalagi ini sedang UAS,” keluhnya.
Chelsea juga
menyampaikan bahwa genangan air telah memasuki Gedung G dengan ketinggian air
yang cukup tinggi. Kendati demikian, pihak jurusan tetap memberikan toleransi
kepada mahasiswa agar proses pembelajaran tetap berjalan. Salah satu bentuk
toleransi tersebut adalah memperbolehkan mahasiswa menggunakan sandal sebagai
penyesuaian terhadap kondisi lingkungan kampus yang tergenang.
Pengalaman serupa turut
dirasakan oleh Ira Aulia Chairani Harahap, mahasiswi Jurusan Elektro. Ia
menjelaskan bahwa hujan deras dan banjir pasang membuat kondisi jalan menjadi
licin dan meningkatkan risiko bagi pengendara sepeda motor.
“Saat hujan deras jalan jadi licin, dan
kalau banjir pasang motor rentan mogok, terutama di wilayah ULM,” ungkap Ira.
Menurut Ira, terdapat
beberapa dosen yang memilih melaksanakan perkuliahan secara daring, sementara
sebagian lainnya tetap menjalankan perkuliahan secara luring. Ia menilai bahwa
pembelajaran tatap muka masih lebih efektif, namun pembelajaran daring menjadi
alternatif yang tepat apabila kondisi genangan air dinilai membahayakan
keselamatan mahasiswa.
Meski menghadapi
berbagai hambatan, semangat mahasiswa untuk mengikuti perkuliahan tetap
terjaga. Dukungan dari dosen serta solidaritas antar mahasiswa menjadi faktor
penting dalam menjaga motivasi belajar di tengah situasi bencana. Mahasiswa
tetap berupaya hadir dan mengikuti perkuliahan sesuai dengan kebijakan yang
telah ditetapkan oleh pihak kampus.
Untuk mengurangi risiko
banjir rob dalam jangka panjang, pihak kampus telah melakukan sejumlah upaya
pencegahan. Rachmi menyebutkan bahwa kampus melakukan pengerukan sungai
menggunakan excavator serta pembenahan aliran air di sekitar jalan kampus.
Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil dengan berkurangnya genangan air yang
sebelumnya menetap di beberapa titik.
Rachmi berharap langkah
pencegahan tersebut dapat berjalan optimal dengan dukungan seluruh civitas
akademika.
“Mahasiswa juga bisa membantu dengan
menjaga kebersihan sungai. Secara tidak langsung, hal itu akan membantu
mencegah banjir rob terjadi kembali,” tuturnya.
Dengan adanya kerja sama antara pihak kampus dan mahasiswa, diharapkan dampak banjir rob dapat diminimalisir sehingga kegiatan perkuliahan di Poliban tetap dapat berlangsung secara efektif meskipun berada di tengah kondisi cuaca ekstrem.
Penulis: Aghniya Alawiyah Ramadhani & Muhammad Abdillah Hidayat
Reviewed by LPM Lensa Poliban
on
Selasa, Desember 23, 2025
Rating:


Tidak ada komentar