Dari Sampah Jadi Filamen 3D, Cara Poliban Hadirkan Teknologi Green Campus
Berawal dari workshop pengelolaan sampah dan penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP), upaya Politeknik Negeri Banjarmasin (Poliban) mengembangkan kembali Bank Sampah Clean Lovers kini memasuki tahap uji coba produksi. Dengan memanfaatkan sejumlah peralatan manufaktur di workshop kampus, limbah botol plastik mulai diolah menjadi berbagai produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi. Inisiatif ini dikembangkan sebagai Teaching Factory lintas jurusan yang mengintegrasikan pembelajaran, teknologi, dan pengelolaan lingkungan. Melalui kolaborasi mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan, pengelolaan sampah di Poliban mulai diarahkan menjadi ruang praktik nyata untuk menerapkan konsep ekonomi sirkular sekaligus mendukung terwujudnya Green Campus.
Proses pengolahan sampah secara fisik dilakukan di Workshop Instalasi Listrik Poliban dengan memanfaatkan sejumlah mesin manufaktur yang telah difasilitasi untuk mendukung kegiatan recycle manufacturing. Tim pengelola mengolah limbah botol plastik melalui beberapa tahapan, mulai dari pemilahan berdasarkan warna, pencucian, pencacahan, hingga proses pengepresan dengan pemanasan untuk menghasilkan material baru yang dapat digunakan kembali.
Kepala Laboratorium Workshop Instalasi Listrik, Hendra Mars Setiawan, S.T., M.Tr.T., menjelaskan bahwa salah satu produk yang dikembangkan adalah papan komposit berbahan dasar tutup botol plastik. "Untuk papan berukuran satu meter kali satu meter, dibutuhkan sekitar 2.500 tutup botol atau sekitar delapan kilogram bahan baku. Setelah ditimbang, bahan tersebut kemudian diproses melalui press hingga menjadi satu papan komposit yang dapat dimanfaatkan sebagai material furniture kampus, seperti meja dan kursi," jelas Hendra.
Sementara itu, bagian badan botol plastik (body) dimanfaatkan sebagai bahan baku filamen untuk printer 3D. Filamen tersebut dikembangkan untuk mendukung pembuatan blade kincir angin sekaligus berbagai kebutuhan penelitian di bidang energi terbarukan yang melibatkan dosen dan mahasiswa. Pemanfaatan sampah tidak berhenti pada kebutuhan penelitian. Workshop juga mengembangkan berbagai produk turunan, mulai dari merchandise, tatakan gelas berlogo Poliban, klem instalasi listrik, hingga dudukan busbar. Inovasi ini mengubah limbah plastik menjadi produk bermutu, bernilai ekonomi, dan edukatif.
Guna memperkuat ekosistem pengelolaan sampah, Poliban menjalin kerja sama dengan Bank Sampah Induk Baiman Kota Banjarmasin. Kolaborasi ini menjadi upaya Poliban menghadirkan pendekatan teknologi manufaktur dalam mengolah sampah menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi. "Kerja sama ini kita jalin karena mereka pada dasarnya adalah pengepul dan pengolahannya belum maksimal. Poliban hadir untuk membantu mengolah sampah tersebut menjadi produk yang memiliki nilai jual," tutur Hendra.
Upaya pengelolaan sampah tersebut juga mulai dikembangkan melalui sistem digital yang melibatkan mahasiswa Jurusan Teknik Informatika (TI). Melalui fitur tap kartu mahasiswa untuk mengumpulkan poin tabungan sampah. "Anak-anak TI kebetulan membuat sistem penghitungannya. Jadi ketika mahasiswa membuang sampah, mereka tidak sekadar membuang, tetapi mendapatkan feedback berupa poin," tambahnya.
Namun, realisasi kolaborasi mahasiswa secara luas di lapangan masih menghadapi kendala komunikasi dan koordinasi. Perwakilan mahasiswa Jurusan Teknik Elektro, Nabila Azzahra, mengungkapkan kondisi tersebut. "Group chat sudah dibentuk dari awal kegiatan, cuma tindak lanjut proyek kolaborasinya belum ada, jadi sejauh ini interaksinya masih sebatas pembagian sertifikat workshop," ujar Nabila. Ia menyebutkan belum adanya tindak lanjut eksekusi di lapangan ini lantaran padatnya agenda dan aktivitas para dosen pengelola saat ini.
Di tengah upaya mengembangkan inovasi pengolahan sampah, perubahan perilaku warga kampus tetap menjadi tantangan utama. Tim pengelola masih menemukan sampah organik, anorganik, hingga limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), seperti lampu Tubular Lamp (TL), dan komponen elektronik yang dibuang tanpa dipilah, yang berpotensi dapat mencemari lingkungan dan menghambat pengolahan. Karena itu, Hendra menegaskan, keberhasilan Green Campus tak cukup hanya bertumpu pada teknologi, melainkan juga pada konsistensi warga kampus. "Harapannya, bukan hanya kesadaran memilah sampah dan menghemat energi, tetapi juga komitmen menjalankannya secara berkelanjutan. Jangan sampai ramai di awal lalu berhenti, agar Poliban benar-benar menjadi green campus," tegas Hendra.
Reviewed by LPM Lensa Poliban
on
Sabtu, Agustus 22, 2026
Rating:

Tidak ada komentar