Dari Banjarmasin ke Surabaya, Mahasiswa Poliban Ukir Prestasi di National Welding Competition 2026
Mahasiswa Politeknik Negeri Banjarmasin (Poliban) kembali mengukir prestasi nasional pada ajang bergengsi National Welding Competition (NWC) 2026. Kompetisi bidang pengelasan ini digelar di Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) pada 13–17 Juli 2026, dengan melibatkan 139 mahasiswa vokasi dari 29 politeknik se-Indonesia.
Sebelum mengikuti kompetisi NWC, mahasiswa Teknik Mesin Poliban, Ahmad Hafi, juga pernah mengikuti seleksi regional Kalimantan pada kategori SMAW Plat 3G. Berbekal pengalaman tersebut, ia kemudian menghadapi NWC 2026 dengan waktu persiapan sekitar dua minggu. Meski persiapannya hanya dua minggu, ia berupaya maksimal menghadapi ketatnya kompetisi melawan kampus-kampus unggulan. "Pesaing terberat ada tiga, yakni PPNS karena pengelasannya sudah jadi program studi, Politeknik Batam yang pembelajarannya berstandar industri, serta Politeknik Negeri Medan," ungkap Hafi.
Tantangan krusial saat berlomba adalah perbedaan spesifikasi mesin las dan terbatasnya waktu running test yang hanya 15 menit. "Saya berusaha tetap tenang, meski tertekan melihat peserta di samping sudah hampir selesai," tutur Hafi. Di balik capaiannya, terdapat dukungan dari rekan mahasiswa semester 6 serta bimbingan tiga dosen, yaitu Ketua Program Studi D3 Teknik Mesin Ichwan Noor Ardiyat, S.T., M.Eng., Kepala Laboratorium Teknologi Mekanik Roby Cahyadi, S.T., M.T., dan Ryan Dinata, S.T., M.T.
| Instruktur memberikan pengarahan teknis kepada peserta kompetisi di bengkel. |
Hafi juga menyoroti fasilitas lomba yang sangat ketat menerapkan standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) serta menyediakan bahan baku berkualitas. Terkait persiapan di kampus, ia mengakui adanya sedikit kendala, tetapi dapat teratasi. "Persiapan kami tetap maksimal di akhir walaupun sempat ada kendala, semoga kedepannya selalu di-support untuk latihan," tuturnya. Meski begitu, ketekunannya berhasil mengatasi keterbatasan tersebut. Keberangkatannya didukung penuh secara finansial oleh Poliban, ditambah apresiasi dana pribadi dari para dosen pembimbing. Hafi mengaku sangat bangga mampu meraih juara dan mengharumkan nama Poliban di kancah nasional.
Ke depannya, Hafi bertekad terus mengasah kemampuan untuk mencapai jenjang Welding Engineer maupun Welding Inspector. Baginya, keahlian praktik mutlak dikuasai mahasiswa vokasi. Ia juga berpesan kepada adik tingkat yang tertarik mengikuti ajang serupa agar terus rajin berlatih dan konsisten dalam mengembangkan kemampuan, sehingga skill yang dimiliki dapat semakin terasah dan berkembang. "Kebutuhan utama vokasi adalah skill, mengingat porsinya 70 persen praktik dan 30 persen teori," ujarnya. Terakhir ia juga menaruh harapan besar pada kelanjutan dukungan kampus. "Semoga saya bisa ikut kompetisi selanjutnya dan Poliban tetap mendukung dari segi dana dan lainnya," tutupnya.

Tidak ada komentar