Datang Mencari Pengalaman, Ferryansyah Pulang Membawa Medali Perak
Berawal dari cedera yang menghentikan langkahnya di lapangan sepak bola, Ferryansyah justru menemukan jalan baru yang tak kalah membanggakan. Mahasiswa Politeknik Negeri Banjarmasin (Poliban) ini sukses menyabet medali perak pada Kejuaraan Bela Diri Mixed Martial Arts (MMA) Provinsi Kalimantan Selatan 2026. Pencapaian luar biasa ini diraihnya tepat pada pertandingan debutnya, setelah ia banting setir dan menjalani latihan intensif selama 10 bulan.
Perjalanannya mengenal MMA sebenarnya bermula secara kebetulan saat ia baru memasuki dunia perkuliahan. Berawal dari informasi pendaftaran atlet di Instagram, ketertarikannya makin bulat karena terinspirasi sosok sang kakek yang pernah menjabat Ketua Muay Thai Kalimantan Selatan. Ia pun rutin berlatih sejak bulan Desember hingga akhirnya sang pelatih memercayainya untuk turun gunung mewakili klub. “Biasanya siapa yang rajin latihan, otomatis itu yang diajak. Karena waktu itu saya latihan terus, akhirnya saya yang dipilih,” ungkapnya mengenang awal mula terpilih.
Fase persiapan menuju kejuaraan nyatanya tidak berjalan mulus karena ia harus berjuang menurunkan berat badan untuk bertarung di kelas 61 kilogram. Upaya memangkas bobot dari 63 kilogram ini mengharuskannya mengatur asupan gizi ketat, bahkan sampai memaksanya harus jogging sesaat sebelum penimbangan resmi akibat kelebihan beberapa ons. Beban mentalnya pun sempat bertambah akibat penundaan jadwal tanding dari Januari ke Juni, serta hadirnya cibiran meremehkan dari orang-orang sekitar. “Sempat ada omongan yang meremehkan, ‘Palingan kamu tidak bakal juara juga.’ Dari situ motivasi saya naik untuk membuktikan ke mereka, sampai akhirnya sekarang terbukti,” katanya menegaskan.
Pembuktian itu pun benar-benar dimulai ketika Ferryansyah melangkah masuk ke dalam arena pada laga semifinal. Ia langsung dihadapkan dengan ujian berat melawan anggota Satpol PP yang memiliki dasar kemampuan Taekwondo dan gulat yang tangguh. Sadar sang lawan lebih unggul secara teknik, ia bermain cerdik dengan mengandalkan ketahanan fisik demi menguras tenaga lawan hingga berhasil mengamankan kemenangan. “Mungkin karena doa sebelum pertandingan, percaya diri, sama ketahanan fisik di semifinal yang benar-benar membantu,” ujarnya membongkar kunci kesuksesannya.
Kemenangan krusial tersebut mengantarkannya ke partai puncak untuk menantang lawan yang jauh lebih matang dan pernah meraih emas Pekan Olahraga Provinsi (Porprov). Ferryansyah dan pelatihnya sebenarnya sudah bersepakat untuk menghindari pertarungan bawah (ground fighting), namun staminanya yang terkuras memaksanya menyerah lewat kuncian American lock. Kendati gagal membawa pulang medali emas, raihan perak ini diakuinya sudah melampaui harapan. “Awalnya cuma mencari pengalaman saja karena ini pertandingan pertama saya. Tapi alhamdulillah bisa masuk semifinal, lalu melanjutkan ke babak final,” tuturnya penuh syukur.
Kini, di tengah kesibukan membagi waktu antara jadwal latihan dan tugas-tugas perkuliahan, medali perak ini menjadi cambuk semangat barunya. Ia dan pelatih mulai mengevaluasi kelemahan di teknik ground fighting untuk membidik target yang lebih besar, yakni menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) Bela Diri di Manado pada 2026 ini. Ia membuktikan bahwa kegagalan di satu bidang bisa menjadi pintu kesuksesan di tempat lain jika dihadapi dengan sungguh-sungguh. “Tekuni saja apa yang sesuai dengan basic masing-masing,” pesannya kepada mahasiswa dan generasi muda yang sedang menggali potensi diri.
Reviewed by LPM Lensa Poliban
on
Kamis, Juli 23, 2026
Rating:

Tidak ada komentar